Sulitkah Menggunakan Kalimat Efektif?

Pertanyaan pada judul di atas bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijawab. Bagi sebagian besar orang tentu akan apriori dengan pertanyaan tersebut. Apa manfaatnya bila kita menggunakan kalimat efektif dan apa ruginya bila tidak? Yang penting, bagi mereka, informasi yang hendak disampaikan dapat diterima oleh orang lain. Begitu pula informasi dari orang lain dapat dipahami dengan baik tanpa pernah memedulikan apakah kalimat yang dipakai dalam berkomunikasi itu efektif atau tidak.

“Penyakit” seperti tersebut di atas tidak hanya mewabah di kalangan masyarakat tak terpelajar, tetapi juga telah merasuki sebagian besar kaum yang mengatasnamakan dirinya sebagai kaum terpelajar, kaum intelektual. Bahkan berdasarkan pengamatan langsung penulis ketika sedang bercakap-cakap dengan teman sejawat, para guru (baca: guru Bahasa Indonesia) sering “masa bodoh” dengan masalah ini. Mereka membiarkan berbagai kesalahan berbahasa terjadi di depan mata mereka. Tidak ada upaya langsung dan cepat tanggap untuk segera membenahi kesalahan-kesalahan tersebut. Haruskah sikap dan apriori itu dibiarkan menjamur dan tumbuh subur bak rumput ilalang di musim hujan? Tentu saja tidak.

Kita sebagai bangsa Indonesia sudah sepantasnya merasa bangga karena memiliki bahasa Indonesia yang sangat kita cintai ini. Bahasa Indonesia yang telah mampu mempersatukan berbagai perbedaan suku dan keanekaragaman budaya Indonesia. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bila kita merasa malu jika belum mampu menggunakan bahasa kita sendiri dengan baik dan benar. Sanggupkah kita menerima stigma dari bangsa asing bahwa kita sebagai bangsa yang bodoh, bangsa yang tak pernah menghargai bahasanya sendiri? Sekali lagi jawabnya tentu tidak.

Agar kita tidak mendapatkan stempel seperti tersebut di atas, pada kesempatan ini penulis ingin menyoroti berbagai kesalahan berbahasa, khususnya tentang ketidakefektifan kalimat. Hal ini menjadi penting karena kalimat yang tidak efektif akan berpengaruh pada keakuratan informasi yang akan kita sampaikan atau kita cerap. Dengan mengetahui kesalahannya kita mencoba untuk membenahinya sedikit demi sedikit. Perhatikan contoh di bawah ini.

(1) Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.

(2) Bagi yang merasa kehilangan harap segera mengambilnya di ruang guru.

(3) Dalam pertemuan itu menghasilkan keputusan yang memuaskan semua pihak.

(4) Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.

(5) Dia sedang belajar matematika di kamar kemudian dijawabnya semua soal latihan itu.

(6) Ayahnya mengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 11 Surabaya.

(7) Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

(8) Waktu dan tempat saya persilakan.

(9) Untuk mempersingkat waktu, ….

(10) Bunga-bunga mawar, melati, dan kenanga sangat disukainya.

(11) Apel, mangga, dan durian adalah buah-buahan yang sangat enak.

(12) Silakan Saudara maju ke depan!

(13) Bajunya berwarna merah.

(14) Jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.

(15) Meskipun hidupnya menderita, akan tetapi ia tidak pernah mengeluh.

Sebelum kita bahas kalimat tersebut di atas satu per satu, terlebih dahulu kita harus memahami bagaimana menggunakan kalimat efektif itu. Ada beberapa hal untuk menentukan apakah suatu kalimat bisa dikatakan sebagai kalimat efektif atau bukan.

 

a. Kesatuan Gagasan

Kalimat efektif harus memiliki kesatuan gagasan dan mengandung satu ide pokok (satu pengertian lengkap). Kalimat dikatakan memiliki kesatuan gagasan jika memiliki subjek, predikat dan fungsi-fungsi kalimat lainnya saling mendukung dan membentuk kesatuan tunggal. Dengan demikian, kalimat haruslah mengandung unsur subjek dan predikat sebagai unsur inti sebuah kalimat. Kehadiran unsur-unsur lain (objek, pelengkap, ataupun keterangan) hanyalah sebagai tambahan bagi unsur inti.

 

b. Kesejajaran (Paralel)

Kalimat efektif harus memiliki kesejajaran (keparalelan). Yang dimaksud dengan kesejajaran adalah penggunaan bentukan kata atau frasa berimbuhan yang memiliki kesamaan (kesejajaran) baik dalam fungsi maupun bentuknya. Jika bagian kalimat itu menggunakan verba berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- lagi. Jika bagian kalimat itu menggunakan verba berimbuhan meng-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan meng- lagi. Begitu pula dengan verba berimbuhan yang lainnya juga harus mengikuti kaidah tersebut di atas. Satu bagian kalimat berupa verba aktif, bagian kalimat yang lain juga harus berupa verba aktif. Demikian pula halnya jika satu bagian merupakan verba pasif, bagian lainnya pun harus merupakan verba pasif.

 

c. Kelogisan

Kalimat efektif harus mudah dipahami. Unsur-unsur pembentuknya harus memiliki hubungan yang logis atau dapat diterima oleh akal sehat. Susunan kalimat dianggap logis apabila kalimat itu mengandung makna yang bisa diterima akal dan bermakna sesuai dengan kaidah-kaidah nalar secara umum.

 

d. Kehematan

Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Setiap kata haruslah memiliki fungsi yang jelas dan tidak boleh menggunakan kata yang berlebihan. Penggunaan kata yang berlebihan justru akan mengaburkan dan memperlemah maksud kalimat itu.

Setelah kita mengetahui beberapa prinsip pembentukan kalimat efektif, ada baiknya kita mulai memahami mengapa kalimat nomor 1 sampai dengan nomor 15 bukan merupakan kalimat efektif.

(1) Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.

(2) Bagi yang merasa kehilangan harap segera mengambilnya di ruang guru.

(3) Dalam pertemuan itu menghasilkan keputusan yang memuaskan semua pihak.

Kalimat (1) s.d (3) di atas tidak memiliki kelengkapan fungsi kalimat. Jika kita analisis, kalimat (1) di dalam keputusan itu (keterangan), merupakan (predikat), kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum (pelengkap). Dengan demikian kalimat ini bukanlah kalimat yang efektif karena tidak memiliki kesatuan gagasan. Fungsi subjek tidak hadir dalam kalimat (1) ini. Agar menjadi kalimat efektif, fungsi subjek harus dihadirkan dengan cara menghilangkan kata di dalam. Dengan demikian kalimat (1) menjadi

(1a) Keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.

Demikian pula untuk kalimat (2) dan (3), fungsi subjek harus dihadirkan dengan cara menghilangkan kata bagi untuk kalimat (2), dan kata dalam untuk kalimat (3), sehingga kalimat tersebut akan menjadi

(2a) Yang merasa kehilangan harap segera mengambilnya di ruang guru.

(3a) Pertemuan itu menghasilkan keputusan yang memuaskan semua pihak.

Dari pembahasan tersebut di atas jelaslah bahwa menggunakan kalimat efektif harus memperhatikan kelengkapan fungsi-fungsi kalimatnya. Paling tidak, fungsi subjek dan predikat dalam sebuah kalimat harus dihadirkan. Fungsi subjek dan predikat merupakan unsur inti sebuah kalimat.

Perhatikan kembali kalimat (4), (5), dan (6) di atas. Sepintas kalimat tersebut tidak ada permasalahan. Namun, apabila kita cermati ternyata kalimat-kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antarunsur pembentuknya. Dalam kalimat (4) verba menolong merupakan verba aktif berafiks meng-, sedangkan dipapahnya merupakan verba pasif berafiks di-. Begitu pula dengan kalimat (5), verba belajar merupakan verba aktif berafiks ber- sedangkan verba dijawabnya merupakan verba pasif berafiks di-. Verba pertama dan kedua dalam kalimat di atas tidak sejajar. Agar kalimat (4) dan (5) tersebut efektif, bentuk verbanya harus diubah sehingga menjadi verba yang sejajar. Verba tersebut boleh dijadikan verba aktif maupun pasif. Dengan demikian, kalimat (4) dan (5) akan menjadi

(4a) Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan.

(4b) Anak itu ditolong (oleh) kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.

(5a) Dia sedang belajar matematika di kamar kemudian menjawab semua soal latihan itu.

(5b) Matematika sedang dipelajarinya di kamar kemudian dijawabnya semua soal itu.

Sekarang kita perhatikan kalimat (6), (7), (8), dan (9). Kalimat-kalimat tersebut sepintas tidak bermasalah. Namun, apabila kita perhatikan ternyata kalimat-kalimat ini tidak bisa diterima oleh akal sehat (tidak masuk akal). Pada kalimat (6), Bahasa Indonesia bukanlah benda hidup yang bisa diajar. Kalimat (7) juga tidak jauh berbeda. Dalam menulis surat kita berhadapan dengan orang yang akan membaca surat tersebut. Artinya kita berhadapan dengan orang kedua. Namun, kalimat (7) ternyata menggunakan kata ganti orang ketiga nya (dia) yang notabene tidak hadir dalam komunikasi tersebut. Alangkah konyolnya jika kita berbicara dengan orang kedua tetapi menggunakan bentuk orang ketiga. Demikian pula untuk kalimat (8). Siapa yang dipersilakan? Orang atau waktu dan tempat? Tentu saja yang dimaksudkan adalah orangnya bukan waktu dan tempatnya. Dari sudut pandang ini saja kalimat (8) tidak bisa dikatakan sebagai kalimat yang masuk akal. Hal it juga terjadi pada kalimat (9). Siapa yang bisa mempersingkat waktu? Kita semua diberi waktu yang sama dalam sehari, yaitu 24 jam. Kalimat ini perlu diubah agar maknanya menjadi jelas. Dengan demikian kalimat (6), (7), (8), dan (9) seharusnya diubah menjadi

(6a) Ayahnya mengajarkan Bahasa Indonesia di SMA Negeri 11 Surabaya.

(7a) Atas perhatian Anda/ Saudara/ Bapak/ Ibu, saya ucapkan terima kasih.

Perlu diperhatikan untuk kalimat (7a), pemakaian kata ucapkan digunakan ketika kita sedang berkomunikasi secara lisan. Tetapi, jika dalam bahasa tulis kita gunakan kata sampaikan. Mengapa demikian, karena bahasa tulis tidak bisa berucap. Yang bisa berucap adalah ketika kita berbahasa lisan.

(8a) Yang terhormat … saya/ kami persilakan.

(9a) Agar pembicaraan kita tidak terlalu lama ….

Sekarang kita perhatikan kalimat (10) s.d. (14). Penggunaan bentuk ulang pada kalimat (10) bunga-bunga dan (11) buah-buahan tidak efektif karena pemeriannya sudah menyatakan majemuk sehingga seharusnya kita tidak menggunakan bentuk ulang. Kalimat (12) juga tidak efektif. Penggunaan frasa maju ke depan dalam kalimat ini seharusnya tidak berlebihan seperti itu. Bukankah maju selalu ke depan? Contoh lain yang seperti ini misalnya: mundur ke belakang, naik ke atas, turun ke bawah. Kalimat (13) juga mengandung kata yang tidak hemat pengunaannya. Merah sudah menyatakan suatu warna sehingga pemakaian kata warna seharusnya dihindari jika kita ingin menyebutkan suatu warna. Ketidakefektifan kalimat (14) dan (15) tampak pada pengunaan konjungsi yang berlebihan. Penggunaan konjungsi jika … maka, atau meskipun … akan tetapi tidak hemat. Seharusnya jika kita sudah menggunakan konjungsi jika untuk digunakan dalam suatu klausa, kita tidak perlu menambah dengan kata maka untuk dirangkaikan dengan klausa berikutnya. Demikian pula dengan konjungsi meskipun … akan tetapi …. Dengan demikian kalimat (10) s.d. (15) seharusnya diubah menjadi

(10a) Bunga mawar, melati, dan kenanga sangat disukainya.

(11a) Apel, mangga, dan durian adalah buah yang sangat enak.

(12a) Silakan Saudara maju!

(13a) Bajunya merah.

(14a) Jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh, kita akan mendapatkan hasil yang maksimal.

(14b) Kita akan mendapatkan hasil yang maksimal jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh.

(15a) Meskipun hidupnya menderita, ia tidak pernah mengeluh.

(15b) Ia tidak pernah mengeluh meskipun hidupnya menderita.

Perhatikan kalimat (14a) dan (14b), (15a) dan (15b) di atas. Jika anak kalimat mendahului induk kalimat, diberi tanda koma (,) di antaranya. Tetapi, jika induk kalimat berada di depan, tidak perlu diberi tanda koma (,). Masih banyak contoh lain yang seperti ini. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menggunakan konjungsi-konjungsi semacam ini.

Demikianlah pembahasan singkat tentang kalimat efektif. Judul makalah ini merupakan kalimat tanya. Sudahkah kita mampu menjawabnya? Apakah kita tetap akan menjawab sulit atau mudah? Semua bergantung pada kita sebagai pembelajar bahasa. Apakah kita akan selalu mempertahankan bentuk kalimat yang tidak efektif atau akan mengubahnya. Menurut hemat penulis, sebaiknya kita mulai dari sekarang selalu mencoba menggunakan kalimat efektif. Siapa lagi yang akan mencintai bahasa Indonesia selain kita sendiri sebagai warga bangsa ini.

~ oleh yusbuset di/pada Januari 22, 2008.

4 Tanggapan to “Sulitkah Menggunakan Kalimat Efektif?”

  1. pak males baca semuanya,,
    mending dengerin langsung penjelasan dari P.Yus waktu di kelas..
    atau kali gak gitu..
    ya tanya langsung ..
    hehehehehe…

  2. sebenarnta,penggunaan kalimt efektif itu ga sulit,hanya saja,kita biasakan dalam bebbahasa itu dibuat-buat jadi salah.terutama para petinggi kita,gimana kita rakyat bisa gunain kalimat efktif semantara petinggi kita yang berintelek aja tidak bisa.

  3. pak gak da background yang laen ya ???
    kok item semua ??????

  4. bahas kalimat efektif tapi kok penjelasannya ga efektif blas loh..

    mbulet2 puoll

Tinggalkan Balasan