Hari Senin… Hari Bahasa Jawa?

Membaca judul di atas mungkin akan menggelitik hati kita. Pastilah berkecamuk berbagai pertanyaan yang bertubi-tubi yang merayap dan menghinggapi sanubari kita. Ada perasaan senang, ada perasaan bingung, ada perasaan ragu, dll.

Satu hal yang mendasari tulisan ini adalah instruksi dari dinas terkait agar setiap hari Senin di lingkungan departemen di bawah Pemerintah Kota Surabaya menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari. tentu saja hal ini bisa dilaksanakan dengan catatan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Sebagai contoh, dalam pembelajaran di sekolah kita tidak mungkin mengajarkan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dengan bahasa Jawa. Sungguh aneh dan lucu bila hal itu kita lakukan. Yang dimaksudkan di sini tentu saja bila kita hendak berkomunikasi dengan teman atau relasi dalam konteks yang tidak resmi.

Terlepas dari permasalahan tersebut di atas kiranya kita perlu memberikan apresiasi kepada pembuat kebijakan tentang hal ini. Kita tentu saja tidak menginginkan bahasa Jawa menjadi “bahasa asing” di negerinya sendiri. Kita tidak pernah mau bermimpi untuk mempelajari bahasa Jawa dari orang asing yang note bene bukan orang Jawa.

namun, kita perlu menggarisbawahi sebuah pertanyaan ini. Bahasa Jawa yang bagaimanakah atau dialek manakah yang harus kita gunakan dalam komunikasi kita nanti? Apakah Bahasa Jawa dialek Suroboyo atau dialek Solo dan Yogya? Tentu kita sudah mafhum bahwa bahasa Jawa dialek Suroboyo memang cenderung lebih kasar dibandingkan dialek Solo dan Yogya. Apalagi bahasa Jawa versi sebuah stasiun televisi Surabaya yang sering kita dengar lewat program Pojok Kampung.

Menurut hemat saya, sebaiknya kita perlu lebih hati-hati dalam menggunakan bahasa Jawa ini agar generasi muda(baca:anak-anak) tidak begitu saja menerima, mencerap, dan menirukan setiap kosakata bahasa Jawa itu. Kita harus memproteksi mana kosakata yang baik dan pantas ita ucapkan dan mana koskata yang kurang baik untuk kita ucapkan.

Akhirnya kita kembalikan semuanya pada nurani kita masing-masing. Sanggupkah kita menjaga, memupuk, dan melestarikan salah satu budaya adi luhung bangsa ini ataukah akan kita biarkan punah seiiring dengan derasnya laju globalisasi?

Semoga kita lebih berpikiran jernih dalam menanggapinya. AMIN!

~ oleh yusbuset di/pada Januari 31, 2008.

3 Tanggapan to “Hari Senin… Hari Bahasa Jawa?”

  1. namun, kita perlu menggarisbawahi sebuah pertanyaan ini. Bahasa Jawa yang bagaimanakah atau dialek manakah yang harus kita gunakan dalam komunikasi kita nanti? Apakah Bahasa Jawa dialek Suroboyo atau dialek Solo dan Yogya? Tentu kita sudah mafhum bahwa bahasa Jawa dialek Suroboyo memang cenderung lebih kasar dibandingkan dialek Solo dan Yogya. Apalagi bahasa Jawa versi sebuah stasiun televisi Surabaya yang sering kita dengar lewat program Pojok Kampung.

    kita gak perlu memperdebatkan masalah bahasa jawa yang mana? kita coba aja sebisa kita. Mengenai pendalaman bahasa jawa ttg unggah-ungguh, kromo inggil, ngoko, madya akan dibahas setelah bahasa jawa tersebut sudah diterapkan.

    Saya juga heran dengan orang jawa. Masak untuk jadi seorang sarjana sastra jawa, harus sekolah/kuliah di jawa. Padahal, bahasa jawa berasal dari indonesia, tapi belajarnya di belanda. Menyedihkan bukan? mudah-mudahan dengan langkah pemkot surabaya tersebut dapat melestarikan budaya kita yang hampir memudar.

  2. Saya juga heran dengan orang jawa. Masak untuk jadi seorang sarjana sastra jawa, harus sekolah/kuliah di jawa

    maaf salah ketik sekolah/kuliah di belanda

  3. setuju banget,,
    karna Qt sebagai penduduk pulau jawa harus brusaha seMax.mungkin tuk mempertahankan budaya Qt,,
    tidak hanya bahasa saja,
    tapi seluruh kebudayaan yang ada dlm negara Qt,,
    agar tidak terjadi lagi kecolongan budaya oleh negra lain..

Tinggalkan Balasan